DONGENG : Pentingnya Mencuci Tangan Pakai Sabun

Story > Narrative

http://www.bobo.grid.id

Pada hari Minggu, pagi-pagi sekali Noni, Caca, dan Fika pergi mendaki gunung Roban. Mereka berencana akan kemah di puncak gunung. Berbekal tikar, makanan, dan minuman dari rumah, mereka pergi dengan sangat semangat. Kicauan burung yang merdu mengiringi langkah mereka, membuat mereka jadi semakin semangat. Namun di pertengahan jalan, Noni mulai lelah.
"Huh aku sangat lelah. Kapan ya kita sampai?" kata Noni mengeluh. Keringatnya bercucuran dan kakinya mulai sakit.
"Sabar Noni, Aku juga lelah. Bagaimana kalau kita istirahat dulu?" tanya Fika.
"Baiklah." jawab Noni dan Caca. Mereka pun istirahat sambil minum air yang mereka bawa. Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan.



Tak lama kemudian, sampailah mereka di puncak gunung Roban. Mereka sangat senang, rasa lelah seketika hilang. Mereka pun langsung menghamparkan tikar yang mereka bawa dan langsung mendudukinya.
"Alhamdulilah akhirnya kita sampai." kata Fika sambil meluruskan kedua kakinya.
"Fika, mengapa kamu meluruskan kakimu?" tanya Noni penasaran.
"Kata Ibuku, kalau kita habis melakukan perjalanan jauh, kita harus meluruskan kaki kita. Agar aliran darah kita mengalir dengan lancar." jawab Fika.
"Oh begitu, baiklah aku juga akan meluruskan kakiku." kata Noni.
"Eh, ngomong-ngomong Caca mana ya?" tanya Fika. Mereka baru menyadari bahwa Caca tidak ada.
"Aku di sini, kawan!" teriak Caca dari jauh. Rupanya Caca sedang memunguti buah Rambai yang sudah tergeletak di tanah.
"Kamu sedang apa di sana Caca?" tanya Noni
"Aku sedang memunguti buah Rambai." Caca pun menghampiri mereka dengan
tangan yang telah dipenuhi buah Rambai.
"Wah! Banyak sekali, sini buahnya masukkan ke kantong plastik." kata Noni.
"Ayo kawan kita siapkan makanan kita, aku sudah lapar." kata Fika.
"Ayo." jawab Caca dan Noni
Mereka pun mengeluarkan bekal yang mereka bawa dari rumah. Tak lupa mereka saling berbagi makanan.
"Sebelum makan, kita cuci tangan dan baca doa dulu ya, kawan." kata Fika.
Lalu, mereka mencuci tangan dengan sabun dan air yang mereka bawa dari rumah.
"Caca, kamu tidak mencuci tanganmu pakai sabun?" tanya Noni.
"Ah, tidak perlu. Cuci tangan dengan air bagiku sudah cukup bersih. Lagi pula kita kan makan pakai sendok." Jawab Caca dengan tenang.
"Tapi kata Ibuku kalau cuci tangan tanpa sabun, kumannya tidak akan hilang." jawab Fika.
"Tidak apa-apa. Kumannya kan tidak kelihatan." jawab Caca.

Melihat sikap Caca, Fika dan Noni hanya bisa menggelengkan kepala.
Setelah mencuci tangan, mereka berdoa, kemudian menyantap makanannya.
Tak lama kemudian, makanan mereka telah habis. Hanya tersisa buah Rambai yang belum mereka makan.
"Nah yuk kita makan buah Rambainya." kata Caca. Caca pun langsung melahap buah Rambai itu tanpa dicuci terlebih dahulu.
"Eehhhh, Caca, cuci dulu buahnya!" Kata Fika.
"Iya Ca, tadi kan buahnya tergeletak di tanah. Jadi harus dicuci dulu." kata Noni menambahkan.
"Yah sudah terlanjur." jawab Caca.
"Yasudahlah." jawab Noni dan Fika.
Noni dan Fika tak mampu menghabiskan buah Rambainya, karena terlterlalu banyak dan cukup asam. Kecuali Caca, ia tetap menikmati buah Rambai itu sampai habis.

Hari sudah sore, setelah puas makan, berfoto-foto, dan menikmati pemandangan di atas puncak, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Malam pun tiba, ketika hendak tidur tiba-tiba perut Caca pedih. Lalu ia pergi bolak-balik ke wc sampai 10x.
http://www.guragura.tistory.com

Melihat hal itu, Ibu Caca terbangun dan segera membawa Caca ke klinik terdekat. Dokter mengatakan, Caca terkena diare. Ini akibat ia tidak mencuci tangannya dan memakan buah Rambai terlalu banyak. Ia pun menyesali perbuatannya. Ia berjanji akan selalu mencuci tangan dan tidak lagi makan sembarangan.

Komentar

Postingan Populer