Perjuangan Mendapatkan Beasiswa Bank Indonesia 2020

Perjuangan mendapatkan Beasiswa di Saat Pandemi Corona

Penulis: Rima Amara Sabrina


Assalamu'alaikum, wr.wb
Halo generasi milenial ! Siapa yang tidak senang mendapatkan beasiswa. Semua orang pasti senang. Dapat biaya pendidikan dan biaya hidup gratis. Semua ditanggung oleh pemberi beasiswa. Wah pasti menyenangkan, kah?

Setelah pontang panting gagal berkali-kali dapetin perguruan tinggi dan jurusan impian, nggak pernah menyurutkan semangatku untuk meraih cita-cita, toh, gagal masuk perguruan tinggi bukan akhir dari segalanya kan? Yang penting selalu mau dan semangat belajar.
Ada banyak hikmah yang dapat diambil dari sebuah kegagalan.

Alhamdulillah, tahun ini, di tengah pandemi corona ini, aku mendapatkan beasiswa Bank Indonesia. Aku berjanji pada diri sendiri, jika aku lolos beasiswa Bank Indonesia , aku akan sharing pengalaman, dan perjuangan mendapatkan beasiswa ini. Agar teman-teman yang ingin mendaftar bisa termotivasi untuk mendapatkannya.

Ada yang sudah tau, apa itu Beasiswa Bank Indonesia?

Beasiswa Bank Indonesia (BI) adalah beasiswa yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada mahasiswa S1 dari berbagai perguruan tinggi. Baik perguruan tinggi swasta maupun negeri. Sebagai program sosial Bank Indonesia berupa bantuan biaya pendidikan. Bantuan biayanya sebesar 1 Juta perbulan.

Mahasiswa yang lolos beasiswa Bank Indonesia ini otomatis akan tergabung di Komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI). GenBI adalah komunitas yang punya segudang kegiatan seru yang sangat bermanfaat untuk masyarakat.
Pokoknya seru banget deh!


Aku berasal dari Kota Singkawang Kalimantan Barat. Tapi merantau kuliah di IAIN Pontianak.
Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat hanya bekerjasama dengan dua perguruan tinggi, yaitu Universitas Tanjungpura dan IAIN Pontianak. Jadi aku daftar beasiswa Bank Indonesia komesariat IAIN Pontianak.

Singkat cerita, aku tau beasiswa ini dari info di kampus sejak aku masih semester 2. Tapi infonya kutepis begitu aja, karena aku masih semester 2, masih belum cukup umur, eh. Karena syaratnya minimal sudah semester 3. Dan aku pun waktu itu masih mau ngumpulin banyak pengalaman di kegiatan-kegiatan baik itu kegiatan masyarakat, maupun kegiatan kampus. Karena salah satu syarat daftar beasiswa BI itu adalah mahasiswa harus punya pengalaman aktif di kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat. Jadi, buat kalian yang merasa masih belum banyak pengalaman di organisasi, event masyarakat dan kampus, perbanyak dulu pengalamannya agar memenuhi persyaratan.

**

Tibalah masa dimana aku udah berada di semester 4, itu artinya, aku udah boleh dong daftar beasiswa BI. Aku kepoin infonya di kampus. Tapi masih belum ada. Akhirnya aku tunggu. Dan tiba-tiba habis bangun bobok cantik di siang bolong nggak sengaja aku nemu infonya di grup jurusanku.
Ada 2 tahap penyeleksian beasiswa BI di daerahku, yang pertama seleksi tahap 1 (yaitu seleksi berkas).
Kemudian, seleksi tahap 2 (seleksi wawancara).

Aku pun auto siapin semua berkas-berkas dan persyaratannya (yang lumayan banyak)
Mulai dari (Catet ya!):
1. Kartu Keluarga
2. KTP
3. Kartu Tanda Mahasiswa
4. Surat Keterangan Tidak Mampu
5. Slip Gaji Orang Tua
6.Surat Pernyataan Belum Nikah
7. Surat Pernyataan Tidak Bekerja
8. Surat Pernyataan Tidak Menerima Beasiswa Lain
9. Resume Pribadi
10. Motivation Letter "mengapa saya layak dapat beasiswa ini" (ditulis tangan)
11. Surat Rekomendasi Beasiswa
12. Blanko Biodata Mahasiswa
13. Sertifikat prestasi atau piagam penghargaan
14. Kartu Hasil Studi
15. Slip Pembayaran Daftar Ulang.

Berkas-berkas beasiswa
(Sumber: Dokumen Pribadi)

Berkasnya discan lalu disubmit dalam format PDF. 
Tapi itu persyaratan dari kampusku, ya, karena bisa aja persyaratan di kampus lain ada yang berbeda dari kampusku. Tapi sebelum itu, pastikan IPK kalian di atas 3 ya. Karena salah satu syarat mendapatkan beasiswa ini IPK minimal 3.00

Waktu pendaftaran dan input berkasnya lumayan cepet juga. Dari tanggal 23 Maret-3 April (pas corona lagi viral-viralnya). Jadi aku cepet-cepet lah ngurus berkas itu. Aku hampir pernah -patah semangat- karena pihak kampus nyuruh ke kampus yang jauh itu untuk dapetin rekomendasi, tapi semua daerah udah dilockdown. Yah, aku pun jadi ikut down.

Di saat hatiku ikut ter-lock-down, mamaku selalu menyemangatiku. Beliau turut membantuku ngurus berkas itu, walau di tengah pandemi yang ganas ini. Ayahku? Ayahku turut membantu lewat doa-doa dan keringatnya.

Ternyata Allah mempermudah jalanku, jadi untuk ngurus surat rekomendasi nggak perlu lagi ke kampus. Cukup minta rekomendasi dari tokoh masyarakat setempat aja. Contohnya RT, Lurah, Kepala Desa dll.

Aku pun tak lupa ucap syukur kala itu..

Untuk motivation letter, aku tulis seadanya, sejujurnya, sesuai dengan keadaanku saat ini. Sedikit tips untuk nyusun motivation letter, tulislah seunik dan sekreatif mungkin supaya para panitia penerima beasiswa tertarik milih kamu.

Jadi, buat kamu yang memang nggak hobi menulis, belajarlah menulis mulai dari sekarang. Seperti menulis artikel, essay, jurnal, lebih bagus lagi bisa menerbitkan buku. Pelajari tata Bahasa PUEBI karena ini sangat bermanfaat untuk masa depanmu. Manfaatnya bukan hanya untuk daftar beasiswa, tapi bisa untuk melamar kerja juga.

**

Berkas-berkas itu nantinya akan diseleksi dulu di kampus. Setelah berkasnya lolos di kampus, berkas itu diantar ke Bank Indonesia, dan pihak BI seleksi lagi menjadi 100 orang yang lolos.

Seleksi tahap 1 (tahap berkas) ini namaku tercantum ke dalam 100 orang yang lolos. Alhamdulillah.
Lagi-lagi aku mengucap syukur kepada Allah.

Tapi perjuangan belum selesai sampe situ aja, tong! Jadi jangan terlalu seneng dulu. Seneng boleh, bersyukur wajib, tapi jangan loncat-loncat juga.

Masih ada tahap 2, TAHAP WAWANCARA. Dimana, tahap inilah yang paling menentukan "anda layak atau tidak" menerima beasiswa ini. Tahap ini adalah tahap terhoror yang pernah menimpa para pejuang beasiswa. Yang awalnya sumringah, bisa-bisa jadi gelabah. Yang awalnya riang tiba-tiba jadi meriang. Pokoknya gitu deh, kalian bisa bayangin sendiri seserem apa. Tapi nggak sampe bikin bulu kuduk merinding juga kali.

Wawancara dimulai dari tanggal 20-24 April 2020. Karena hadirnya si corona, jadi wawancara diadakan secara online menggunakan aplikasi Zoom. Aplikasi yang lagi naik daun. Urusan sinyal, aku nebeng ke rumah sodara biar bisa pakai wifi. Karena takut aja nanti mati lampu sinyalnya lenyap seketika. U know lah ya.

Lagi-lagi aku mengucap syukur, karena urusan udah dipermudah. Terimakasih pakde dan makdeku yang udah bersedia memberi tumpangan wifi gratis, eak.

Sebelum H- wawancara aku udah persiapin apa saja yang akan diwawancarain nanti. Antisipasi karena ini wawancara. Ingat. Wawancara! Jadi, seperti biasa, mulailah aku googling. Baca artikel-artikel orang yang menginspirasi yang pernah lolos beasiswa BI, artikel tips wawancara online gimana. Oh iya, selain itu aku juga pelajarin tentang kebanksentralan. Seperti apa itu Bank Indonesia, gimana kedudukannya di tata negara, apa tujuan BI, apa pilar BI, siapa gubernur BI, apa hubungan BI dengan pemerintah (baik pemerintah pusat, maupun daerah) serta apa itu beasiswa BI, bagaimana programnya, dll.

Aku juga pelajarin tentang GenBi. Meskipun aku udah tau, tapi aku pengen tau dan kenal lebih dalem gitu. Biar kayak orang lagi PDKT (yang jomlo jangan baper, tolong).

Semua yang kupelajari itu kutulis di buku ajaib, lalu seperti ini:

Buku ajaib, buku sejuta umat
(Sumber: Dokumen Pribadi)


**

Tibalah hari dimana aku wawancara. Tepat sekali di hari pertama puasa, hari Jum'at tanggal 24 April 2020. Tepat 2 hari setelah ulang tahunku, dan 1 hari setelah hari annivku sama doi. Hehe. Jum'at berkah, vroh!

Jadwal wawancaraku jam 10:20-10:50 (waktu yang cukup membuat kakiku kesemutan). Yang mewawancaraiku ada 3 orang, yaitu pihak BI, pihak kampusku, dan pihak GenBI.

10:19 detik-detik yang mencekam, seketika ruangan menjadi hening, angin berhenti berhembus, dan aku berdiam diri menatap layar hapeku berharap wawancara ini segera berakhir (padahal mulai aja belon, kumaha?).

10:20, begin! Dengan bismillah, aku join ke zoom dengan kode yang telah disediakan. Lalu aku disambut hangat oleh para pewawancara. Hai, hai, say hello (ga gitu juga kali). Aku dengan senyum yang sumringah membalas sapaan para beliau. Karena sawan atau gerogi, jantungku bergetar kencang. Tak kuduga, gigiku ikut bergetar. Yaallah sumpah lebay, jangan ditiru, kawan!

Santuy,

Pertanyaan yang pertama diajukan oleh pihak IAIN. Aku ditanya, yg pertama, dan yang paling utama adalah : nama, fakultas, jurusan.
Lalu, mulailah ke pertanyaan yang mencekam sekaligus mencekik ginjalku. Yaitu, ditanya kegiatan apa yang pernah kamu lakukan untuk masyarakat?

Aku terdiam sejenak, bukan karena tidak bisa jawab. Tapi otakku lagi nyusun tata bahasa Indonesia yang baik yang benar.

"Pernah mengajar?" katanya, lagi. Belum sempat menjawab, beliau udah nanya lagi.

"Pernah, saya pernah mengajar les privat Bahasa Inggris. Di rumah ketika libur kuliah, saya juga mengajar ngaji", jawabku.

Dan kalian tau nggak beliau bilang apa,
"Coba kamu ngaji," perintahnya.

"Ashiap, pak," (dalam hati).

Aku pun menunjukkan pesona ngajiku, wkwk.

"Oke, lalu apa yang pernah kamu lakukan untuk masyarakat selain ngajar?" tanyanya lagi dengan air muka yang mengerinyutkan jidat.

"Di kampung saya, saya aktif dalam kegiatan kampung dongeng, MC, MC di mall pernah bla bla bla," jawabku.

"Kalau di kampus?" tanyanya

"Di kampus saya aktif di kegiatan sebagai jurnalis, riset juga, selain itu saya sering jadi MC ketika ada acara kampus bla bla," jawabku menjelaskan.

"Punya prestasi di bidang non akademik dan akademik ndak?" tanyanya

"Kalau akademik, dulu SMA saya rengking 3 besar. Kalau non akademik baru-baru ini saya menjuarai juara 1 lomba cipta puisi di kampus pak, lalu ketika masih SD tahun 2008 saya mendapat juara MTQ, lalu tahun 2010, 2013, 2014, 2016 bla bla, jawabku menjelaskan panjang kali lebar.

"Oke, oke, sudah ya sudah cukup, telalu banyak," tuturnya memotong penjelasanku, padahal masih ada yang mau dijelasin.

"Lalu, pernah mengikuti event-event apa kek gitu?" Tanyanya

"Saya pernah menjadi pemateri di acara Workshop dll," tuturku.

"Oke, lalu kamu pernah menulis? Atau tulisannya pernah dipublikasikan," tanyanya.

"Oh tentu" (dalem hati agak sedikit riang gembira gitu. Soalnya ini hobiku).
"Pernah pak, menulis berita, 3 artikel di website Hipwee. Dan udah nerbitkan 2 buku sebagai editor," jawabku.

"Oh 2 buku?" air wajah beliau mulai sumringah, memandangku seolah tak percaya.

"Iya pak," jawabku sopan.

**
Singkat cerita , gantian pihak BI yang bertanya. Bertanya tentang apa motivasimu mengikuti beasiswa ini, apa itu Bank Indonesia sebagai bank sentral dll (tu kan keluar, untung udah belajar).

Lalu yang terakhir, pihak GenBi yang mewawancarai. Yang ini kakak-kakak cantik imut berkacamata yang mewawancaraiku. Beliau bertanya apa itu genbi (untung udah belajar juga), bagaimana caramu mengatur waktu antara kuliah dan organisasi, mengapa sih kamu layak kami pilih sebagai penerima beasiswa, dan apa program yang akan kamu buat untuk GenBI ketika lolos nanti?
Aku jawab tanpa kendala, alhamdulillah.

Aku jawablah program yang akan saya buat yaitu:
1. GenBI berdiskusi seminggu sekali untuk meningkatkan literasi dan membudayakan gerakan membaca.
2. Kelas Menulis GenBi
3. GenBI berbahasa asing

Ternyata dari 3 program itu, 2 program belum ada di GenBI, jadi usulanku bisa ditampung.


Dan wawancara selesai. Kakiku kesemutan. Sebenarnya masih ada yang ingin kusampaikan kepada pewawancara, penting sekali, hingga membuatku kepikiran siang malam.
Tapi yasudah lah, kalau memang rejeki pasti menjadi milik. Aku pasrah. Dan terus berdoa kepada Allah SWT, sang pemilik semesta alam.

Oh iya, nantinya dari 100 orang yang seleksi wawancara tadi disaring lagi menjadi 50 orang yang terpilih mendapatkan beasiswa.

**


Tanggal 29 April telah tiba, itu hari yang ditunggu-tunggu. Karena akan ada pengumuman hasil wawancara dan pengumuman kelulusan beasiswa di hari itu.
Pagi,
Siang,
Hingga sore, belum kunjung juga ada pengumumannya.

Pagi, berdoa masih santuy
Siang, berdoanya rada kenceng
Sore, berdoanya mulai ngegas
Malam, doa dan sholawat semakin tidak santuy.

Di malam yang huru hara, aku yang sedang asik googling artikel hiburan. Tiba-tiba temenku di grup kelas memberi ucapan selamat kepadaku, selamat karena aku LOLOS Beasiswa BI. Padahal aku belum tau, tapi dia tau duluan.

Alhamdulillah, lagi-lagi, dan lagi, lagi terus aku bersyukur. Namaku ada di urutan 36 dari 50 orang yang lolos. Aku peluk deh orang tuaku. Malam yang penuh haru di kala itu.

Alhamdulillah di tengah kondisi corona yang seperti ini, adik yang juga mau kuliah, ada juga adikku yang mau masuk SMA di tahun yang sama, Allah menghadirkan beasiswa. Ringanlah beban kedua orang tuaku. Berbahagialah mereka. Terimakasih, ya Allah.


-Tamat-

Sedikit tips untuk wawancara:
1.   Sebelum mulai, berdoa dulu
2.   Jawab sejujurnya dan apa adanya
3.   Jadilah diri sendiri
4. Jangan lupa senyum, jangan terlalu tegang. Santuy. Karena cuman wawancara, bukan mau akad nikah
5. Siapkan sinyal dan tempat yang memadai (khusus untuk wawancara online)
6. Pelajari Motivation Letter yang kalian tulis. Karena itu sangat membantumu menjawab pertanyaan dari pewawancara
7. Tetap rendah hati, jangan sombong
8. Jika diperintah untuk nunjukin bakat, tunjukkan lah semaksimal mungkin. Agar pewawancara tertarik.

Itu dulu tips wawancara dariku, mungkin temen-temen yang pernah wawancara mau nambahin. Silakan..

------
Akhir kata,
semoga tulisan ini menginspirasi, untukmu, para pejuang beasiswa BI. TETAP SEMANGAT! 

Berusaha dan berdoa, nanti Allah yang menentukan. Intinya jangan lelah berusaha. Kalau gagal, ya tinggal nangis di pojokan.  Eh ya berusaha lebih giat lagi lah.

Ingatlah, rejeki tak akan tertukar, amanah tak akan salah pundak.


Salam GenBI !



Singkawang, 1 Mei 2020

Komentar

Postingan Populer