Awalnya Demam Panggung, Tapi Sekarang Bisa Public Speaking Dengan Percaya Diri

Cara melatih public speaking

Penulis: Rima Amara Sabrina



Banyak orang yang masih takut ketika tampil di muka umum. Entah karena grogi, belum terbiasa, atau bahkan takut dengan orang, hiii (maksudnya takut dengan respon maupun tatapan para penonton). Hal inilah yang memicu rasa insecure (baca: kurang percaya diri) seseorang. Karena ketika maju di muka umum alih-alih merasa nyaman, malah rasanya buru-buru ingin meninggalkan panggung. Alhasil, apa yang akan disampaikan orang tersebut tidak tersampaikan sepenuhnya akibat rasa   nervous yang membara.
Jadi, tak sedikit orang berbondong-bondong mengikuti kelas public speaking demi bisa menampilkan performa terbaik di muka umum. Baiklah, apa yang dilakukan orang-orang yang mengikuti kelas tersebut tidaklah salah, justru itu merupakan langkah yang sangat positif untuk perkembangan pribadi.

Untuk itu, penulis ingin menceritakan sebuah kisah. Kisah ini diangkat dari pengalaman penulis sendiri. Rima Amara Sabrina. 
Yang Insya Allah menginspirasi bagi pembaca ya. 

Kita mulai...
Awalnya saat saya masih sekolah di bangku SD saya adalah orang yang sangat grogi tampil di muka umum. Terutama ketika tampil di depan kelas. Waktu itu ada tugas Bahasa Indonesia disuruh membaca puisi. Alih-alih menampilkan performa yang baik, saya malah tertawa cekikikan di depan kelas. 
Mungkin guru saya bergumam dalam hati "nih anak gajelas banget, gada yang lucu ketawa".

Teman-teman saya yang lain pun heran. Dan ketika saya selesai tampil teman sebangku seperjuangan saya nanya " eh lu napa dah ketawa-tawa tadi, perasaan puisi lu kaga lucu" 
"Gua gugup bro" jawab saya yang masih gemetaran usai tampil.

Di lain waktu, ketika saya kelas 5SD saya pernah mengikuti lomba Kasidahan di komplek perumahan saya. Saya ditunjuk menjadi vokalisnya, karena katanya suara saya lumayan oke, bagai penyanyi dangdut gitu haha. 
Singkat cerita, saya dan rombongan tampil. Saya bernyanyi dengan epik, eak, dengan suara yang gemetaran, bulu tangan bergidik (udah kayak mau ketemu hantu aje). Namun di tengah performa, saya lupa lirik terakhirnya. Saya pun terdiam sambil mengingat-ingat liriknya. Alhasil, rombongan saya menatap saya dengan penuh keheranan. Saya senggol sedikit teman sebelah saya dan bilang "woi gua lupa". 
Tanpa disadari, badan saya sudah bermandikan keringat dingin saking lamanya terdiam dan gugup.
Para penonton pun menyuruh kami turun saja. Wkwk. Yaa, kami turun, hasilnya sudah ditebak kami tidak menang. Sungguh memalukan. 

Masih banyak penampilan saya yang hancur ketika di panggung. Saya pun jadi membenci panggung dan segala tetek bengeknya. Rasa benci ini berlanjut hingga saya sampai SMP.

Namun semua berubah ketika saya menduduki kelas 2 SMP. Saat itu menjelang Bulan Ramadhan, sekolah kami akan mengadakan perlombaan di kegiatan pesantren kilat. Lomba yang diadakan meliputi lomba ceramah, lomba MTQ, lomba kaligrafi dan lain-lain (saya agak lupa). Kemudian, setiap lomba masing-masing diikuti oleh 2 orang peserta, perempuan dan laki-laki dari setiap kelas. Misal, lomba ceramah ada dai dan dai'yah. Lomba MTQ ada Qori dan Qori'ah, begitu seterusnya.

Kemudian, wali kelas saya menunjuk saya mengikuti lomba Ceramah untuk mewakilkan kelas. Alasannya karena saya berjilbab (fyi, di kelas kami yang berjilbab hanya 3 orang). Yg bener wae toh cuman gara-gara berjilbab saya ditunjuk menjadi penceramah? Apakah saya mau? Tentu saja tidak. Saya pun auto nolak dong. Apalagi rentang waktu dari saya ditunjuk itu hingga hari H tidak sampai seminggu. Sudah tau saya demam panggung, nanti malah hancur lagi seperti pengalaman saya sebelumnya.

Namun sang wali kelas tetap memaksa saya untuk ikut. Ntah mengapa saya yang dipaksakan. Padahal masih ada teman lain yang berjilbab. Mungkin karena wajah saya polos, ceria, dan suka tersenyum wkwk (kata guru saya begitu). 
Yasudah akhirnya dengan berat hati, saya iyakan. 

Pulang sekolah, saya menangis sejadi-jadinya karena saya bingung harus gimana. Materi juga dari saya yang persiapkan. Sungguh panik perasaan saya pada saat itu. 

Saya pun bercerita kepada kedua orang tua saya. Mereka berusaha menenangkan saya. Mereka sangat mensupport saya. Bahkan mereka mau membantu menyiapkan materi dan turut membantu melatih saya tampil setiap malam. Lalu ayah saya menyarankan "coba di tengah-tengah ceramah, kamu bernyanyi menggunakan lagu yang bersangkutan dengan temamu. Biar ada point plusnya." Fyi, tema yang akan saya bawakan sangat sederhana, yaitu tentang Sholat 5 Waktu. Karena saya suka bernyanyi,  saya pun menuruti saran ayah saya itu.

Tibalah saat hari H. Saya sudah keringat dingin dan membayangkan betapa seramnya di atas panggung. Tapi saya ingat, orang tua saya bilang jangan memikirkan hal-hal negatif, santai saja. Saya pun berusaha sesantuy mungkin, walau terkadang rasa grogi datang mengetuk pikiran.

Ketika berangkat sekolah saya sambil menghapal teksnya di jalan. Lombanya sih boleh membawa teks. Saat tampil saya tetap membawa teks saya, jadi kalau lupa saya bisa lihat teks. Untuk berjaga-jaga siapa tau saya gugup lagi. Namun sampai akhir penampilan saya tidak lihat teksnya karena saya sudah hafal. Dan seperti yang ayah saya sarankan, saya menyanyikan lagu di tengah-tengah ceramah. Yang membuat juri dan penonton cukup tercengang wkwk. Saya tidak terlalu ingat persisnya seperti apa, intinya saya lihat juri di depan saya tersenyum mesem-mesem gimana gitu.

Selesai tampil, saya menonton penampilan peserta yang lain. Banyak juga yang bagus, namun tak sedikit pula yang gugup hingga selalu menatap teksnya saja.

Pulang sekolah, saya mencoba melupakan lomba tadi. Karena tadi penampilan saya juga tidak bagus-bagus amat. Suara saya bergetar dan saya tetap saja gugup tadi. Orang tua saya yang sangat perhatian itu kepo menanyakan bagaimana penampilan saya tadi. Saya cuma menjawab "yaa begitulah" lalu masuk kamar. Di kamar terkadang rasa kepikiran lomba itu datang. Karena besoknya pengumuman pemenang. Saya berusaha menenangkan diri saya sambil menutup mata dan menutup telinga dengan kedua tangan saya, haha. Saya takut sekali. Rasanya saya tidak ingin masuk sekolah besok, takut sedih mendengar pengumumannya.

Keesokan harinya....

Saya berangkat sekolah dengan perasaan biasa saja, terkadang rasa takut itu datang. Saya segera menepisnya.

Tibalah pengumuman, jengjeng.. 
Kami para siswa dikumpulkan di tengah lapangan. Saya kembali menutup telinga saya di tengah kerumunan orang-orang. Saya mau kabur saja, tapi tidak boleh. Yasudah saya pasrah sambil tutup telinga. Namun siapa sangka ternyata nama saya disebutkan sebagai pemenang juara 2. Wah wah. Dinda, teman baik saya langsung menepuk pundak saya. "Hei kamu menang. Aku gak nyangka loh."  

Mendengar itu, saya bukannya maju ngambil hadiah malah bengong di tempat. "HAH BENERAN AKU?" kataku dalem hati. Kedua kalinya nama saya dipanggil beserta nama kelas, 8A. Saya pun menjadi yakin kalau ternyata itu saya. Oke saya maju, dengan perasaan tak menyangka. Kami para pemenang difoto. Sayangnya saya tidak punya fotonya.

Pulang kerumah saya langsung kasih tau orang tua saya dong. Mereka senang. 

Sejak kejadian itu, saya sering ditawari lomba pidato, membaca puisi, maupun stoeytelling. Dan lomba-lomba yang berkaitan dengan "naik di atas panggung". Saya pun mengiyakan. Dan saya memperisapkan itu dengan sungguh-sungguh. Dari beberapa lomba tersebut hampir semua saya menangkan. Alhamdulillah. Lambat laun, benih-benih rasa percaya diri muncul di diri saya.

Dan sekarang saya tidak takut lagi berbicara di depan umum. Termasuk ketika presentasi di kelas, tak jarang saya mendapatkan apresiasi dan nilai tertinggi dari dosen seusai presentasi.

Lagi-lagi itu semua saya raih karena persiapan yang matang sebelum tampil. Saya pernah tampil tanpa persiapan ketika presentasi, ya hasilnya, bisa dibilang hancur haha. 

Saya saat ini mencoba peruntungan menjadi MC di berbagai acara. Dan saya bergabung di Komunitas Kampung Dongeng Singkawang. Di sana saya berperan mendampingi anak-anak, sesekali mendongeng, sesekalli menjadi MC di acara anak-anak. Wah suka sekali saya bergabung di Kampung Dongeng. Benar-benar menambah pengalaman di dunia perpanggungan haha. Bagi yang kepo kegiatan di Kampung Dongeng itu apa saja sih? Mendongeng saja bukan? Di sini kami tidak hanya mendongeng kok, nanti kapan-kapan saya berbagi cerita tentang kegiatan di Kampung Dongeng.

Intinya, bagi saya pribadi, segala sesuatu itu harus dipersiapkan sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik. Dan yang tak kalah pentingnya adalah : Santai. Ketika maju di depan umum, bawalah diri sesantai mungkin yang membuat anda nyaman dengan diri anda. Jika anda tidak berani menatap mata audiens, maka tataplah atas kepalanya saja. Trik ini lumayan ampuh untuk menghilangkan rasa gugup. Terkadang apa yang telah kita persiapkan tiba-tiba hilang karena rasa gugup kita terlalu besar.

Jujur terus terang, saya paling benci sama hal-hal yang mendadak dan spontan. Itu biasanya membuat mood saya menjadi hancur. Tapi kembali lagi, kita harus tetap santai ketika tampil. Buang segala pemikiran negatif. Jangan terlalu overthingking. Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan. Maka Insya Allah rasa gugup hilang dan semua akan berjalan dengan lancar.

Sekian dari saya.
Cukup panjang
Cukup menguras energi
Tapi tak apa, demi sebuah hal yang menginspirasi

Komentar

Postingan Populer